Selasa, 11 Juni 2013


Mana Baik Antara Nikon dengan Canon?


“Kamera DSLR apa yang cocok saya beli?”. Jawab saya terserah, Canon atau Nikon sama-sama baik. Tinggal sesuaikan berapa ukuran kantongmu. Lalu dipake untuk apa? Lalu apakah ada tujuan untuk serius di fotografi?
Bila yang bersangkutan ingin serius belajar di fotografi, tapi anggarannya terbatas, kadang saya rekomendasikan Nikon. Alasannya, kebetulan saya mempunyai banyak lensa, dari zoom (18-135mm), mikro (60mm), standar (35 dan 50mm), wide (12-24mm)hingga tele (80-200mm). Bila untuk belajar, saya bisa pinjamkan lensa-lensa tersebut dengan gratis. Kalau mau koleksi itu semua, butuh waktu dan biayanya sampai puluhan juta.
Pemahaman akan lensa sangatlah penting. Bisa dikatakan, sebagian ilmu fotografi ada pada pemahaman akan lensanya. Demikian juga kualitas foto, separuh kualitas foto ada pada lensa yang digunakan. Jadi, bila dalam menggeluti dunia fotografi hanya menggunakan satu lensa saja, apalagi lensa kit saja, ilmu tak akan berkembang.
Saya beberapa kali menemukan kasus atau anggapan di kalangan fotografer di Mandar bahwa lensa yang ukurannya panjang berarti lensa itulah yang baik. Tidak. Tidak seperti itu kasusnya. Anggapan seperti itu didasari pada ketidakpahaman akan dunia lensa.
Ya, lensa panjang atau tele tentu lebih baik daripada lensa lebar ketika akan mengambil obyek jauh, semisal seekor burung. Tapi bila pemotretan bawah air, lensa tele yang panjangnya sampai setengah meter dengan harga ratusan juta itu tak ada gunanya.
Lensa tele juga tak berguna bila mau memotret semut. Yang harus digunakan adalah lensa makro atau mikro. Demikian juga bila akan memotret dalam ruangan atau landscape. Idealnya pakai lensa lebar atau lensa wide, jangan pakai makro atau tele dong.
Lalu bagaimana dengan model? Setidaknya dua lensa yang direkomendasikan, yaitu lensa standar (35, 50, 85 mm) atau lensa tele yang ukurannya 70-200 mm. Tapi harus diperhatikan bukannya. Idealnya bisa sampai f/2.8 supaya ‘bokeh-nya’ dapat. Pemahaman yang baik akan jenis bukaan biasanya seiring dengan beragamnya lensa yang digunakan. Dengan catatan, lensa-lensa yang digunakan tersebut bukan lensa kit atau bawaan saat membeli kamera.
Bila membeli DSLR pemula, selalu ada kit. Sebab untuk pemula, lensanya juga standar; sebab pemula, lensa yang dikasih adalah jenis zoom sebab lebih gampang digunakan. Bisa lebar, bisa juga tele sedikit. Untuk Canon EOS 1000D, kit-nya 18-55, sama ukurannya untuk Nikon D3000. Untuk diatasnya, seperti Canon EOS 50D, Canon masih menyertai dengan kit 18-55, adapun Nikon telah lebih panjang untuk kelas yang sama, yaitu Nikon D90, dengan lensa ukuran 18-105mm.
Bagaimana pun, lensa-lensa bawaan di atas adalah jenis zoom. Kelebihan zoom, bisa lebar, bisa standar, bisa tele. Masalahnya, bukannya berubah-ubah. Makanya lensa demikian tidak bisa disebut lensa fix (ingat, beda “kit: alat” dengan “fix: tetap”).
Pengalaman saya menggunakan lensa zoom, paling besar bukaannya hanya f/3.5. Bukaan sebesar itu tidak begitu baik dalam meng-isolasi sebuah obyek dan terbatas kemampuan menangkap cahaya. Kadang, bila lensa di-wide atau di-tele, berubah pula bukannya.
Tapi hal demikian tidak terjadi pada lensa fix atau tidak bisa diubah-ubah ukuran lensanya. Seperti lensa lensa 35 mm, 50mm, hingga lensa 400mm, dan lain-lain. Bukannya bisa dipasang sampai tetap berada pada f/1.4, atau f/2.8 yang bukaan diafragmanya lebih besar. Diafragma besar juga bisa diartikan makin “bokeh” (kadang bokeh diartikan sifat kekaburan di sekitar obyek yang difokus; kadang ditandai dengan bulatan-bulatan berwarna-warni).
Ada lensa yang bisa di-zoom tapi bersifat fix bukannya, tapi itu biasanya sebatas lensa tele yang tidak bisa wide, seperti lensa tele 70-200, 80-200mm.
Namun di dunia lensa makro atau mikro, bukaan besar (f/1.4, f/2.8) tidak selalu berguna. Mungkin tidak perlu. Faktornya adalah, bila menggunakan lensa makro, bergeser beberapa milimeter saja sudah akan menggeser fokus. Misalnya akan memotret semut. Bila pakai bukaan f/2.8, mungkin yang fokus atau jelas gambarnya hanya kepala semuat saja. Adapun tubuh hingga ekornya akan nampak kabur. Agar jelas semua, bukaan harus dinaikkan, bila perlu sampai f/16 atau f/22.
Masalahnya, bila menggunakan bukaan ukuran demikian, cahaya yang masuk ke kamera sangatlah sedikit. Bisa dipastikan, memotret dengan ukuran demikian di bawah pohon rindang, hasilnya pasti gelap. Jadi apa jalan keluarnya? Jalan keluarnya adalah pakai cahaya tambahan, yaitu lampu kilat.
Bila mengandalkan lampu kilat built-in di atas kamera, bila menggunakan lensa makro 60mm, akan ada bayangan gelap di bagian atas sebab ujung lensa menahan cahaya dari lampu kilat. Untuk itu, pakailah lampu yang dipasang atau eksternal. Pemasangan atau setting lampu yang tidak cocok akan menghasilkan gambar yang tidak sesuai harapan. Bisa saja obyek tampak mengkilat (karena cahaya terlalu keras), bisa juga over.
Kesimpulannya apa? Penggunaan beberapa jenis lensa akan mengarahkan pada pengetahuan atau teknik lain, baik pemanfaatan fasilitas di kamera maupun peralatan yang dibutuhkan agar memperoleh gambar yang memuaskan. Alat bisa berupa cahaya tambahan, bisa filter, bisa pemantul atau peredam cahaya, bisa remote, dan bisa juga sebuah tripod.
Baik kamera maupun alatnya bukanlah benda murah. Hampir tak ada bagian kamera yang harganya puluhan ribu (kecuali yang palsu). Tutup lensa saja sudah 150an ribu, apalagi bagian-bagian lain. Dalam dunia fotografi, harga itu mencerminkan kualitas. Jadi, bisa memang mau serius di fotografi harus siap keluar banyak uang.
Untuk lensa, makin banyak koleksi lensa makin baik. Body cukuplah satu atau dua, tapi lensa dengan berbagai ukuran minimal lima. Jenis lensa yang harus dikoleksi fotografer adalah zoom, fix, makro, wide, dan tele. Baik Canon maupun Nikon ada semua ukuran-ukuran itu. Khusus untuk Canon, bila sudah ada cincin merah di lensanya, itu berarti lensa berkualitas. Jangan lupa perhatikan material lensa. Ada yang berbahan plastik, ada kaca. Ulir juga demikian, ada yang pakai plastik, ada besi. Bila harga mahal, dipastikan kualitasnya lebih jernih dan lebih kuat.
Bagi yang baru ingin membeli kamera, masukan saya, pilihlah merek atas dasar rasional. Jangan ikut-ikutan saja. Sebab lihat iklan, tiba-tiba mau beli merek itu. Atau ketika dengar kekurangan kameranya, langsung mau ganti. Rasional yang saya maksud telah saya tuliskan di atas. Sesuaikan dana, peruntukan, sistem yang telah digunakan, dan faktor lain.
Jika ingin serius di fotografi, sesuaikan dengan kebiasaan diri dalam belajar. Jika terbiasa sendiri, ulet dalam mencari atau membaca referensi dan telah memiliki basis dunia fotografi, untuk memilih akan lebih mandiri dan indipenden. Tapi kalau betul-betul buta dan untuk belajar membutuhkan orang lain, usul saya, sesuaikan merek kamera Anda dengan merek teman Anda. Teman tersebut idealnya memiliki pengetahuan lebih banyak dan telah lama menggeluti dunia fotografi, memiliki beberapa alat yang bisa dipinjam atau disewa, dan idealnya tinggal sekampung atau bisa bertemu setiap saat.
Ingat, harus ada pengalaman ril, baik dengan koleksi alat yang dimiliki maupun portofolio karya-karyanya. Sebab ada yang memiliki pengetahuan fotografi berdasar teori saja (informasi dari membaca, semisal dari interneti atau majalah). Tidak apa-apa mendapat pengetahuan seperti itu, tapi harus dibarengi dengan pengetahuan teknik, yaitu pengalaman menggunakan alat.
Maksudnya, dari teman tersebut bisa belajar setiap saat, bisa dijadikan tempat bertanya, dan alat yang dia punyai bisa digunakan untuk menambah kemampuan teknik. Dia bisa menjadi seorang guru.
Guru yang baik harus luas cara berpikirnya, tidak mendogma murid dengan alasan-alasan yang cenderung hanya sebuah mitos, dengan mentaklid buta bahwa kamera merek ini lebih baik daripada merek lain. Bagaimana pun juga, pameo klasik dalam dunia fotografi masih berlaku hingga saat ini dan sampai kapan pun, “man behind the gun”. Bahwa yang memegang peranan penting akan sebuah karya baik adalah si fotografernya. Kamera dan perangkat lainnya adalah faktor kesekian.
Terakhir, harus memposisikan diri. Mau jadi seorang fotografer atau jadi seorang photoshoper? Untuk hal ini, nanti saya bahas di tulisan lain.

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Review